Pengertian Antropologi
Antropologi
adalah paduan dari kata-kata yang berasal dari bahasa Yunani anthropos berarti manusia dan logos adalah ilmu. Jadi antropologi
adalah ilmu yang mempelajari sifat-sifat manusia baik secara fisik dan perkembangannya,
maupun sejarah terjadinya aneka warna ciri-ciri fisik manusia, sejarah
persebaran dan aneka warna kebudayaan manusia di muka bumi.[1]
Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama.
Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama.
Definisi antropologi menurut para
ahli
-Menurut William Havilland
Antropologi adalah studi tentang umat manusia, menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
-Menurut David Hunter
Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
-Menurut Koentjaraningrat
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkaan.
-Menurut William Havilland
Antropologi adalah studi tentang umat manusia, menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
-Menurut David Hunter
Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
-Menurut Koentjaraningrat
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkaan.
Dari definisi di atas, pengertian sederhana Antropologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.
Manusia memiliki rasa ingin tahu yang kuat. Rasa ingin tahu itulah yang mendorong manusia mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya.
Manusia mempertanyakan berbagai hal mengenai dirinya sebagai mahkluk biologis dan sebagai mahkluk sosial (dalam arti hidup dalam masyarakat).
Upaya menekuni pertanyaan-pertanyaan demikianlah yang menjadi penyebab berkembangnya antropologi sebagai ilmu. Tujuan kita mempelajari Antropologi yaitu agar kita mengerti tentang mahkluk manusia itu pada umumnya.
Suatu bagan yang menggambarkan
ilmu-ilmu bagian dari antropologi atau beberapa bidang spesialisasi dari
Antropologi Budaya.
Antropologi
Fisik
Antropologi fisik adalah ilmu yang
mempelajari tentang sejarah terjadinya aneka warna mahkluk manusia dipandang
dari sudut ciri-ciri tubuhnya, yang memakai sebagai bahan penelitian ciri-ciri
tubuh, baik lahir (fenotipik) seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut,
indeks tengkorak, bentuk muka, warna mata, bentuk hidung, tinggi dan bentuk
tubuh, maupun yang dalam (genotipik) seperti golongan darah dan sebagainya.
Antropologi
fisik mempelajari manusia sebagai mahkluk fisik yaitu bagaimana dan apa
sebabnya bangsa-bangsa berbeda menurut
keadaan fisiknya.
Antropologi Budaya
Menurut ahli antropologi istilah
kebudayaan, umumnya mencangkup cara berpikir dan cara berperilaku yang menjadi
ciri khas suatu bangsa atau masyarakat tertentu. Kebudayaan terdiri dari
bahasa, sistem ilmu pengetahuan, mata pencaharian, peralatan hidup, kesenian
dan sebagainya.[2]
Konsep kebudayaan sedemikian pentingnya
untuk memahami antropologi budaya, berikut ini adalah spesialisasi dari
antropologi budaya, yakni:
Antropologi
Linguistik
Antropologi linguistik adalah ilmu yang
mempelajari bahasa-bahasa. Para ahli antropologi melakukan penelitian dengan
meminta bantuan kepada ahli bahasa untuk mempelajari bahasa-bahasa masyarakat
sederhana (primitif). Bahasa pada hakikatnya merupakan wahana utama untuk
meneruskan adat-istiadat dari generasi satu ke generasi berikutnya.
Perkembangan
Ilmu Antropologi
Fase pertama (sebelum 1800). Suku-suku
bangsa penduduk pribumi Afrika, Asia dan Amerika mulai didatangi oleh orang
Eropa Barat sejak akhir abad ke-15 dan permulaan abad ke-16, dan lambat laun
dalam suatu proses yang berlangsung kira-kira 4 abad lamanya, berbagai daerah
di muka bumi mulai terkena terpengaruh negara-negara Eropa Barat. Bersama
dengan perkembangan itu mulai terkumpul suatu himpunan besar dari buku-buku
kisah perjalanan, laporan dan sebagainya, buah tangan para musafir, pelaut,
penyiar agama Nasrani, penerjemah kitab Injil, dan pegawai pemerintah jajahan.
Dalam
buku-buku itu ikut termuat suatu himpunan besar dari bahan pengetahuan berupa
deskripsi tentang adat-istiadat, susunan masyarakat, bahasa dan ciri-ciri fisik
dari beraneka ragam warna suku-suku bangsa
di Afrika, Asia, Oseania (yaitu kepulauan di lautan teduh) dan suku-suku
bangsa Indian, penduduk pribumi Amerika. Bahan pengetahuan ini disebut bahan etnografi, atau deskripsi tentang
bangsa-bangsa.
Kemudian
dalam pandangan orang Eropa timbul tiga macam sikap yang bertentangan terhadap
bangsa-bangsa di Afrika, Asia, Osenia, dan orang-orang Indian di Amerika tadi,
yaitu :
1. sebagian
orang Eropa memandang akan sifat keburukan dari bangsa-bangsa tadi, dan
mengatakan bahwa bangsa-bangsa itu bukan manusia sebenarnya, bahwa mereka
manusia liar, turunan iblis dan sebagainya. Dengan demikian timbul
istilah-istilah seperti savages,
primitives, yang dipakai orang Eropa untuk menyebut bangsa-bangsa tadi.
2. sebagian orang Eropa memandang akan sifat-sifat baik dari bangsa-bangsa jauh tadi, dan mengatakan bahwa masyarakat bangsa-bangsa itu adalah contoh dari masyarakat yang masih murni, yang belum kemasukan kejahatan dan keburukan seperti yang ada dalam masyarakat bangsa-bangsa Eropa Barat waktu itu.
2. sebagian orang Eropa memandang akan sifat-sifat baik dari bangsa-bangsa jauh tadi, dan mengatakan bahwa masyarakat bangsa-bangsa itu adalah contoh dari masyarakat yang masih murni, yang belum kemasukan kejahatan dan keburukan seperti yang ada dalam masyarakat bangsa-bangsa Eropa Barat waktu itu.
3. Sebagian
orang Eropa tertarik akan adat-istiadat yang aneh, dan mulai mengumpulkan
benda-benda kebudayaan dari suku-suku bangsa di Afrika, Asia, Oseania dan
Amerika pribumi tadi. Dengan demikian muncul museum-museum pertama tentang
kebudayaan-kebudayaan bangsa di luar Eropa.
Fase kedua (kira-kira pertengahan abad
ke-19). Integrasi yang sungguh-sungguh baru timbul dari
pertengahan abad ke-19, waktu timbul karangan-karangan yang menyusun bahan etnografi
tersebut berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat. Contohnya, masyarakat
dengan kebudayaan manusia telah berevolusi dengan sangat lambat dalam satu
jangka waktu beribu-ribu tahun lamanya, dari tingkat-tingkat yang rendah ,
melalui beberapa tingkat antara, sampai ke tingkat-tingkat tertinggi.
Bentuk-bentuk masyarakat dan kebudayaan manusia yang tertinggi itu adalah
bentuk-bentuk seperti apa yang hidup di Eropa Barat itu. Semua bentuk
masyarakat dan kebudayaan dari bangsa-bangsa di luar Eropa, yang oleh orang
Eropa disebut primitif, dianggap
sebagai contoh-contoh dari tingkat kebudayaan yang lebih rendah, yang masih
hidup sampai sekarang sebagai sisa-sisa dari kebudayaan manusia pada zaman
dahulu. Dengan timbulnya karangan sekitar tahun 1860, yang mengklasifikasikan
bahan tentang keanekaragaman kebudayaan di seluruh dunia ke dalam
tingkat-tingkat evolusi yang tertentu, maka timbullah ilmu antropologi.
Dalam
fase perkembangan yang ke-II ini antropologi berupa suatu ilmu yang akademikal
: dengan tujuan yang dapat dirumuskan sebagai berikut : mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk
mendapat suatu pengertian tentang tingkat-tingkat kuno dalam sejarah evolusi
dan sejarah penyebaran kebudayaan manusia.
Fase ketiga (permulaan
abad ke-20). Pada permulaan abad ke-20, sebagian besar dari negara-negara
penjajah di Eropa masing-masing berhasil untuk mencapai kemantapan kekuasaannya
di daerah-daerah jajahan di luar Eropa. Untuk keperluan pemerintahan jajahannya
tadi, yang waktu itu mulai berhadapan langsung dengan bangsa-bangsa terjajah di
luar Eropa, maka ilmu antropologi sebagai suatu ilmu yang justru mempelajari
bangsa-bangsa di daerah-daerah di luar Eropa itu, menjadi sangat penting. Bersangkutan erat dengan itu
berkembang pendirian bahwa mempelajari bangsa-bangsa di luar Eropa itu penting,
karena bangsa-bangsa itu pada umumnya masih mempunyai masyarakat yang belum
kompleks seperti masyarakat-masyarakat bangsa Eropa. Suatu pengertian tentang
masyarakat yang tak kompleks akan menambah juga pengertian orang tentang
masyarakat yang kompleks.
Dalam
fase ketiga ini ilmu antropologi menjadi suatu ilmu yang praktis, dengan tujuan
dapat dirumuskan sebagai berikut: mempelajari
masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa guna kepentingan
pemerintah kolonial dan guna mendapat suatu pengertian tentang masyarakat masa
kini yang kompleks.
Fase keempat (sesudah
kira-kira 1930). Dalam fase ini ilmu antropologi mengalami masa perkembangannya
yang paling luas, baik mengenai bertambahnya bahan pengetahuan yang jauh lebih
teliti, maupun mengenai ketajaman dari metode-metode ilmiahnya. Kecuali adanya
dua perubahan di dunia:
1. imbulnya antipati terhadap kolonialisme sesudah Perang Dunia II
2. cepat hilangnya bangsa-bangsa primitif (dalam arti bangsa-bangsa asli dan terpencil dari pengaruh kebudayaan Eropa-Amerika) yang sekitar tahun 1930 mulai hilang, dan sesudah Perang Dunia II memang hampir tak ada lagi di muka bumi ini.
1. imbulnya antipati terhadap kolonialisme sesudah Perang Dunia II
2. cepat hilangnya bangsa-bangsa primitif (dalam arti bangsa-bangsa asli dan terpencil dari pengaruh kebudayaan Eropa-Amerika) yang sekitar tahun 1930 mulai hilang, dan sesudah Perang Dunia II memang hampir tak ada lagi di muka bumi ini.
Proses-proses tersebut menyebabkan bahwa ilmu
antropologi seolah-olah kehilangan lapangan, dan dengan demikian terdorong
untuk mengembangkan lapangan-lapangan penelitian dengan pokok dan tujuan yang
baru.
Mengenai tujuannya, ilmu antropologi yang baru dalam
fase perkembangannya yang keempat ini dapat dibagi dua, yaitu tujuan
akademikal, dan tujuan praktisnya. Tujuan akademikalnya adalah : mencapai pengertian tentang mahkluk manusia pada umumnya dengan
mempelajari anekawarna bentuk fisiknya, masyarakat, serta kebudayaannya. Karena
di dalam praktek ilmu antropologi biasanya mempelajari masyarakat suku bangsa,
maka tujuan praktisnya adalah: mempelajari
manusia dalam anekawarna masyarakat suku bangsa guna membangun masyarakat suku
bangsa itu.
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat, 1979. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Citra
Iskandar, Iwa Husen dan Rostika, Enalia, 1996. Pengantar Antropologi. Bandung: Armico
[1] Ihromi, Pokok-pokok Antropologi Budaya (Jakarta: YOI. 1996)hal. ix
[2] Iwa, husen Iskandar. Pengantar
Antropologi (Bandung: Armico. 1996), hal. 16
[3] Iwa, husen Iskandar. Pengantar
Antropologi (Bandung: Armico. 1996), hal. 19
[4] Herimanto, Winarno. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (Solo: Bumi Aksara, 2008)hal. 18
[5] Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi (Jakarta: Rineka Cipta, 2009)hal. 144
[6] Herimanto, Winarno. Ilmu Sosial
dan Budaya Dasar (Solo: Bumi Aksara,
2008)hal. 25
[7] Herimanto, Winarno. Ilmu Sosial
dan Budaya Dasar (Solo: Bumi Aksara,
2008)hal. 27
Tidak ada komentar:
Posting Komentar