.....selamat datang di blog surnanto, semoga bermanfaat.....

Minggu, 02 November 2014

Pengertian Antropologi dan Perkembangannya

Pengertian Antropologi
 Antropologi adalah paduan dari kata-kata yang berasal dari bahasa Yunani anthropos berarti manusia dan logos adalah ilmu. Jadi antropologi adalah ilmu yang mempelajari sifat-sifat manusia baik secara fisik dan perkembangannya, maupun sejarah terjadinya aneka warna ciri-ciri fisik manusia, sejarah persebaran dan aneka warna kebudayaan manusia di muka bumi.[1]
    Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama.
Definisi antropologi menurut para ahli
-
Menurut William Havilland
       Antropologi adalah studi tentang umat manusia, menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
-Menurut David Hunter
       Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.

-Menurut
Koentjaraningrat
       Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkaan.

Dari definisi di atas, pengertian sederhana Antropologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.

     Manusia memiliki rasa ingin tahu yang kuat. Rasa ingin tahu itulah yang mendorong manusia mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya.

      Manusia mempertanyakan berbagai hal mengenai dirinya sebagai mahkluk biologis dan sebagai mahkluk sosial (dalam arti hidup dalam masyarakat).

    Upaya menekuni pertanyaan-pertanyaan demikianlah yang menjadi penyebab berkembangnya antropologi sebagai ilmu. Tujuan kita mempelajari Antropologi yaitu agar kita mengerti tentang mahkluk manusia itu pada umumnya.
 
Suatu bagan yang menggambarkan ilmu-ilmu bagian dari antropologi atau beberapa bidang spesialisasi dari Antropologi Budaya.

Antropologi Fisik
       Antropologi fisik adalah ilmu yang mempelajari tentang sejarah terjadinya aneka warna mahkluk manusia dipandang dari sudut ciri-ciri tubuhnya, yang memakai sebagai bahan penelitian ciri-ciri tubuh, baik lahir (fenotipik) seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, indeks tengkorak, bentuk muka, warna mata, bentuk hidung, tinggi dan bentuk tubuh, maupun yang dalam (genotipik) seperti golongan darah dan sebagainya.
       Antropologi fisik mempelajari manusia sebagai mahkluk fisik yaitu bagaimana dan apa sebabnya bangsa-bangsa berbeda menurut keadaan fisiknya.

Antropologi Budaya
       Menurut ahli antropologi istilah kebudayaan, umumnya mencangkup cara berpikir dan cara berperilaku yang menjadi ciri khas suatu bangsa atau masyarakat tertentu. Kebudayaan terdiri dari bahasa, sistem ilmu pengetahuan, mata pencaharian, peralatan hidup, kesenian dan sebagainya.[2]
       Konsep kebudayaan sedemikian pentingnya untuk memahami antropologi budaya, berikut ini adalah spesialisasi dari antropologi budaya, yakni:

Antropologi Linguistik
       Antropologi linguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa-bahasa. Para ahli antropologi melakukan penelitian dengan meminta bantuan kepada ahli bahasa untuk mempelajari bahasa-bahasa masyarakat sederhana (primitif). Bahasa pada hakikatnya merupakan wahana utama untuk meneruskan adat-istiadat dari generasi satu ke generasi berikutnya. 
  
      Perkembangan Ilmu Antropologi
     Fase pertama (sebelum 1800). Suku-suku bangsa penduduk pribumi Afrika, Asia dan Amerika mulai didatangi oleh orang Eropa Barat sejak akhir abad ke-15 dan permulaan abad ke-16, dan lambat laun dalam suatu proses yang berlangsung kira-kira 4 abad lamanya, berbagai daerah di muka bumi mulai terkena terpengaruh negara-negara Eropa Barat. Bersama dengan perkembangan itu mulai terkumpul suatu himpunan besar dari buku-buku kisah perjalanan, laporan dan sebagainya, buah tangan para musafir, pelaut, penyiar agama Nasrani, penerjemah kitab Injil, dan pegawai pemerintah jajahan.
     Dalam buku-buku itu ikut termuat suatu himpunan besar dari bahan pengetahuan berupa deskripsi tentang adat-istiadat, susunan masyarakat, bahasa dan ciri-ciri fisik dari beraneka ragam warna suku-suku bangsa  di Afrika, Asia, Oseania (yaitu kepulauan di lautan teduh) dan suku-suku bangsa Indian, penduduk pribumi Amerika. Bahan pengetahuan ini disebut bahan etnografi, atau deskripsi tentang bangsa-bangsa.
     Kemudian dalam pandangan orang Eropa timbul tiga macam sikap yang bertentangan terhadap bangsa-bangsa di Afrika, Asia, Osenia, dan orang-orang Indian di Amerika tadi, yaitu :
1. sebagian orang Eropa memandang akan sifat keburukan dari bangsa-bangsa tadi, dan mengatakan bahwa bangsa-bangsa itu bukan manusia sebenarnya, bahwa mereka manusia liar, turunan iblis dan sebagainya. Dengan demikian timbul istilah-istilah seperti savages, primitives, yang dipakai orang Eropa untuk menyebut bangsa-bangsa tadi.
2. sebagian orang Eropa memandang akan sifat-sifat baik dari bangsa-bangsa jauh tadi, dan mengatakan bahwa masyarakat bangsa-bangsa itu adalah contoh dari masyarakat yang masih murni, yang belum kemasukan kejahatan dan keburukan seperti yang ada dalam masyarakat bangsa-bangsa Eropa Barat waktu itu.
3. Sebagian orang Eropa tertarik akan adat-istiadat yang aneh, dan mulai mengumpulkan benda-benda kebudayaan dari suku-suku bangsa di Afrika, Asia, Oseania dan Amerika pribumi tadi. Dengan demikian muncul museum-museum pertama tentang kebudayaan-kebudayaan bangsa di luar Eropa.
     Fase kedua (kira-kira pertengahan abad ke-19). Integrasi yang sungguh-sungguh baru timbul dari pertengahan abad ke-19, waktu timbul karangan-karangan yang menyusun bahan etnografi tersebut berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat. Contohnya, masyarakat dengan kebudayaan manusia telah berevolusi dengan sangat lambat dalam satu jangka waktu beribu-ribu tahun lamanya, dari tingkat-tingkat yang rendah , melalui beberapa tingkat antara, sampai ke tingkat-tingkat tertinggi. Bentuk-bentuk masyarakat dan kebudayaan manusia yang tertinggi itu adalah bentuk-bentuk seperti apa yang hidup di Eropa Barat itu. Semua bentuk masyarakat dan kebudayaan dari bangsa-bangsa di luar Eropa, yang oleh orang Eropa disebut primitif, dianggap sebagai contoh-contoh dari tingkat kebudayaan yang lebih rendah, yang masih hidup sampai sekarang sebagai sisa-sisa dari kebudayaan manusia pada zaman dahulu. Dengan timbulnya karangan sekitar tahun 1860, yang mengklasifikasikan bahan tentang keanekaragaman kebudayaan di seluruh dunia ke dalam tingkat-tingkat evolusi yang tertentu, maka timbullah ilmu antropologi.
     Dalam fase perkembangan yang ke-II ini antropologi berupa suatu ilmu yang akademikal : dengan tujuan yang dapat dirumuskan sebagai berikut : mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk mendapat suatu pengertian tentang tingkat-tingkat kuno dalam sejarah evolusi dan sejarah penyebaran kebudayaan manusia. 
      Fase ketiga (permulaan abad ke-20). Pada permulaan abad ke-20, sebagian besar dari negara-negara penjajah di Eropa masing-masing berhasil untuk mencapai kemantapan kekuasaannya di daerah-daerah jajahan di luar Eropa. Untuk keperluan pemerintahan jajahannya tadi, yang waktu itu mulai berhadapan langsung dengan bangsa-bangsa terjajah di luar Eropa, maka ilmu antropologi sebagai suatu ilmu yang justru mempelajari bangsa-bangsa di daerah-daerah di luar Eropa itu, menjadi  sangat penting. Bersangkutan erat dengan itu berkembang pendirian bahwa mempelajari bangsa-bangsa di luar Eropa itu penting, karena bangsa-bangsa itu pada umumnya masih mempunyai masyarakat yang belum kompleks seperti masyarakat-masyarakat bangsa Eropa. Suatu pengertian tentang masyarakat yang tak kompleks akan menambah juga pengertian orang tentang masyarakat yang kompleks.
Dalam fase ketiga ini ilmu antropologi menjadi suatu ilmu yang praktis, dengan tujuan dapat dirumuskan sebagai berikut: mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa guna kepentingan pemerintah kolonial dan guna mendapat suatu pengertian tentang masyarakat masa kini yang kompleks.
      Fase keempat (sesudah kira-kira 1930). Dalam fase ini ilmu antropologi mengalami masa perkembangannya yang paling luas, baik mengenai bertambahnya bahan pengetahuan yang jauh lebih teliti, maupun mengenai ketajaman dari metode-metode ilmiahnya. Kecuali adanya dua perubahan di dunia:
1. imbulnya antipati terhadap kolonialisme sesudah Perang Dunia II

2. cepat hilangnya bangsa-bangsa primitif (dalam arti bangsa-bangsa asli dan terpencil dari pengaruh kebudayaan Eropa-Amerika) yang sekitar tahun 1930 mulai hilang, dan sesudah Perang Dunia II memang hampir tak ada lagi di muka bumi ini.
Proses-proses tersebut menyebabkan bahwa ilmu antropologi seolah-olah kehilangan lapangan, dan dengan demikian terdorong untuk mengembangkan lapangan-lapangan penelitian dengan pokok dan tujuan yang baru.
Mengenai tujuannya, ilmu antropologi yang baru dalam fase perkembangannya yang keempat ini dapat dibagi dua, yaitu tujuan akademikal, dan tujuan praktisnya. Tujuan akademikalnya adalah : mencapai pengertian tentang  mahkluk manusia pada umumnya dengan mempelajari anekawarna bentuk fisiknya, masyarakat, serta kebudayaannya. Karena di dalam praktek ilmu antropologi biasanya mempelajari masyarakat suku bangsa, maka tujuan praktisnya adalah: mempelajari manusia dalam anekawarna masyarakat suku bangsa guna membangun masyarakat suku bangsa itu.
 DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat, 1979. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Citra
Iskandar, Iwa Husen dan Rostika, Enalia, 1996. Pengantar Antropologi. Bandung: Armico


[1]  Ihromi, Pokok-pokok Antropologi Budaya (Jakarta: YOI. 1996)hal. ix
[2] Iwa, husen Iskandar. Pengantar Antropologi (Bandung: Armico. 1996), hal. 16
[3] Iwa, husen Iskandar. Pengantar Antropologi (Bandung: Armico. 1996), hal. 19
[4]  Herimanto, Winarno. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar  (Solo: Bumi Aksara, 2008)hal. 18
[5] Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi (Jakarta: Rineka Cipta, 2009)hal. 144
[6] Herimanto, Winarno. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar  (Solo: Bumi Aksara, 2008)hal. 25
[7] Herimanto, Winarno. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar  (Solo: Bumi Aksara, 2008)hal. 27

Tidak ada komentar:

Posting Komentar